Misteri Sekolah Baru
Bagian 1
"Anak-anak hari ini kita akan mendapat teman baru.. dia pindah dari negeri seberang... ibu harap kalian memperlakukannya dengan baik"
"Baik bu..." jawab anak-anak kompak.
Tak lama kemudian datanglah gadis bertubuh agak
gemuk memasuki pintu kelas.
"Nah silahkan memperkenalkan diri..." ucap Bu Kartika.
"Perkenalkan nama saya Eka Putri Riani.. saya pindahan dari salah satu sma di negeri seberang" Eka memperkenalkan diri dengan malu-malu.
"Baiklah Eka silahkan duduk disana" ucap Bu Kartika sambil menunjuk ke meja paling ujung. Eka pun segera duduk sesuai arahan wali kelasnya.
"Oke anak-anak... ibu ada pengumuman.. besok bawa fotokopi kartu keluarga, fotokopi ijazah, dan juga skm untuk melengkapi identitas siswa, mengerti?"
"Iya bu..." jawab semua temannya kompak.
Sekolah ini cukup bagus, tapi sayang muridnya sangat gila belajar, batin Eka.
Di kantin, ruang kelas, kamar mandi, ruang uks.. dan semua tempat disekolah ini dipenuhi dengan anak2 yang selalu membawa dan membaca buku Bahkan bahan obrolan teman2nya pun tidak ada topik pembicaraan lain selain materi pelajaran, sungguh aneh!
Beberapa hari yang lalu bahkan ia melihat seorang murid perempuan yang sampai menangis histeris dan bersujud di kaki gurunya supaya gurunya mau memberikan remedial karena nilainya yang dibawah kkm
"Bruakk.." seseorang menabraknya.
"Ada apa? Stephanie kenapa panik?" ternyata teman sekelasnya yang tadi menabrak.
"Ehh Eka.. tadi selepas jam istirahat guru matematika mencegatku dan menyuruhku untuk menyampaikan ke anak sekelas bahwa besok ulangan matematika!!!
Dan aku sama sekali tidak mengerti materinya.. bagaimana ini??? Dan semua buku materi matematika sudah habis di perpustakaan.. aku harus kemana???" keringat bercucuran dari wajah Stephanie yang terlihat sangat panik.
"Santai aja kali aku juga tidak mengerti.. toh tidak semua orang harus sepintar Furai bukan??? "
jawab Eka dengan tersenyum, menurutnya ini lucu sekali, masa hanya karrna matematika sampai sepanik itu.
"Ah iya... Furai! Dia pasti mau mengajariku..." Stephanie segera berlalu dengan cepat.
"Hei kemana?" Tanya Eka.
"Aku mau ke Furai.. sebaiknya kamu segera belajar, ingat besok matematika!"
Eka hanya bisa tertawa lucu, haha dasar gila belajar sampai seperti itu. Sementara Stephanie hanya memandang Eka dengan tatapan heran, bagaimana ia bisa setenang itu? .
Hari ini adalah hari yang sangat membosankan dan melelahkan bagi Eka.
Bagaimana tidak bosan jika setiap ia bergabung dengan obrolan teman-temannya, hanya ada topik materi pembelajaran yang dibicarakan! sangat aneh.
Malam itu ia tidak bisa tidur. Ia sangat rindu orang tuanya. Padahal baru 4 hari ia menginap di asrama sekolah ini. Huuh aku ini cengeng sekali, toh 3 tahun lagi tepatnya setelah lulus juga aku akan bertemu dengan mereka, batin Eka.
Walaupun firasatnya nya mengatakan mereka tak akan pernah berjumpa lagi, itulah yang membuatnya menangis.
Sekolahnya melarang siswa siswinya memiliki kontak dengan keluarga dan orang tuanya, bahkan ponselnya disita sejak pertama kali ia menapakkan kaki di gedung sekolah ini, menurut mereka ini bagus untuk kemandirian.
Tanpa sadar ia pun tertidur pulas setelah menangis.
Sinar matahari yang menyilaukan menembus melalui celah korden jendela. Ia terbangun di pagi hari yang cerah. Segera ia menyiapkan semua kebutuhan sekolah nya.. termasuk menyiapkan berkas yang diberi tahu wali kelas kemarin. Eka mencoba mengingat-ingat apa saja berkasnya.
"Hmm ijazah, kartu keluarga, dan skm? Apa itu skm?" Ia meraba tempat berkasnya. Orang tuanya lah yang mengurus semua berkas yang diperlukan untuk bisa tinggal di negeri ini, jadi ia belum tahu berkas apa saja yang ia bawa.
"Hah Surat Keterangan Meninggal?" Bacanya kaget melihat selembar surat yang ia temukan di tempat berkasnya. Bukankah ia belum meninggal, mengapa sudah ada surat yang menyatakan ia meninggal?.
Dan juga mengapa kartu keluarganya hanya tercantum namanya saja dengan ia sebagai kepala keluarga?
Entahlah... ini bukan saat yang tepat untuk memikirkannya kacuali ia ingin hari ini terlambat masuk sekolah.
Ia segera berbenah dan memfotokopi berkas yang diperlukan. Walaupun dalam hatinya ia merasa sangat aneh dengan berkas itu.
Bersambung.
"Anak-anak hari ini kita akan mendapat teman baru.. dia pindah dari negeri seberang... ibu harap kalian memperlakukannya dengan baik"
"Baik bu..." jawab anak-anak kompak.
Tak lama kemudian datanglah gadis bertubuh agak
gemuk memasuki pintu kelas.
"Nah silahkan memperkenalkan diri..." ucap Bu Kartika.
"Perkenalkan nama saya Eka Putri Riani.. saya pindahan dari salah satu sma di negeri seberang" Eka memperkenalkan diri dengan malu-malu.
"Baiklah Eka silahkan duduk disana" ucap Bu Kartika sambil menunjuk ke meja paling ujung. Eka pun segera duduk sesuai arahan wali kelasnya.
"Oke anak-anak... ibu ada pengumuman.. besok bawa fotokopi kartu keluarga, fotokopi ijazah, dan juga skm untuk melengkapi identitas siswa, mengerti?"
"Iya bu..." jawab semua temannya kompak.
Sekolah ini cukup bagus, tapi sayang muridnya sangat gila belajar, batin Eka.
Di kantin, ruang kelas, kamar mandi, ruang uks.. dan semua tempat disekolah ini dipenuhi dengan anak2 yang selalu membawa dan membaca buku Bahkan bahan obrolan teman2nya pun tidak ada topik pembicaraan lain selain materi pelajaran, sungguh aneh!
Beberapa hari yang lalu bahkan ia melihat seorang murid perempuan yang sampai menangis histeris dan bersujud di kaki gurunya supaya gurunya mau memberikan remedial karena nilainya yang dibawah kkm
"Bruakk.." seseorang menabraknya.
"Ada apa? Stephanie kenapa panik?" ternyata teman sekelasnya yang tadi menabrak.
"Ehh Eka.. tadi selepas jam istirahat guru matematika mencegatku dan menyuruhku untuk menyampaikan ke anak sekelas bahwa besok ulangan matematika!!!
Dan aku sama sekali tidak mengerti materinya.. bagaimana ini??? Dan semua buku materi matematika sudah habis di perpustakaan.. aku harus kemana???" keringat bercucuran dari wajah Stephanie yang terlihat sangat panik.
"Santai aja kali aku juga tidak mengerti.. toh tidak semua orang harus sepintar Furai bukan??? "
jawab Eka dengan tersenyum, menurutnya ini lucu sekali, masa hanya karrna matematika sampai sepanik itu.
"Ah iya... Furai! Dia pasti mau mengajariku..." Stephanie segera berlalu dengan cepat.
"Hei kemana?" Tanya Eka.
"Aku mau ke Furai.. sebaiknya kamu segera belajar, ingat besok matematika!"
Eka hanya bisa tertawa lucu, haha dasar gila belajar sampai seperti itu. Sementara Stephanie hanya memandang Eka dengan tatapan heran, bagaimana ia bisa setenang itu? .
Hari ini adalah hari yang sangat membosankan dan melelahkan bagi Eka.
Bagaimana tidak bosan jika setiap ia bergabung dengan obrolan teman-temannya, hanya ada topik materi pembelajaran yang dibicarakan! sangat aneh.
Malam itu ia tidak bisa tidur. Ia sangat rindu orang tuanya. Padahal baru 4 hari ia menginap di asrama sekolah ini. Huuh aku ini cengeng sekali, toh 3 tahun lagi tepatnya setelah lulus juga aku akan bertemu dengan mereka, batin Eka.
Walaupun firasatnya nya mengatakan mereka tak akan pernah berjumpa lagi, itulah yang membuatnya menangis.
Sekolahnya melarang siswa siswinya memiliki kontak dengan keluarga dan orang tuanya, bahkan ponselnya disita sejak pertama kali ia menapakkan kaki di gedung sekolah ini, menurut mereka ini bagus untuk kemandirian.
Tanpa sadar ia pun tertidur pulas setelah menangis.
Sinar matahari yang menyilaukan menembus melalui celah korden jendela. Ia terbangun di pagi hari yang cerah. Segera ia menyiapkan semua kebutuhan sekolah nya.. termasuk menyiapkan berkas yang diberi tahu wali kelas kemarin. Eka mencoba mengingat-ingat apa saja berkasnya.
"Hmm ijazah, kartu keluarga, dan skm? Apa itu skm?" Ia meraba tempat berkasnya. Orang tuanya lah yang mengurus semua berkas yang diperlukan untuk bisa tinggal di negeri ini, jadi ia belum tahu berkas apa saja yang ia bawa.
"Hah Surat Keterangan Meninggal?" Bacanya kaget melihat selembar surat yang ia temukan di tempat berkasnya. Bukankah ia belum meninggal, mengapa sudah ada surat yang menyatakan ia meninggal?.
Dan juga mengapa kartu keluarganya hanya tercantum namanya saja dengan ia sebagai kepala keluarga?
Entahlah... ini bukan saat yang tepat untuk memikirkannya kacuali ia ingin hari ini terlambat masuk sekolah.
Ia segera berbenah dan memfotokopi berkas yang diperlukan. Walaupun dalam hatinya ia merasa sangat aneh dengan berkas itu.
Bersambung.
Komentar
Posting Komentar