Gudang Tua
Cerita 2
Hari ini adalah hari pertama sekolah setelah libur semester. Semuanya akan kembali seperti biasa, ya tentu saja rutinitas membosankan itu.
Berangkat kemudian belajar dan pulang, sangat membosankan bukan?
Kumasuki pintu kelas dengan sedikit jengkel mendengar celotehan teman-temanku yang sangat berisik.
Aku tidak suka kelas ini, aku suka suasana sepi.
Setelah menaruh tas kutengok masih jam 06.30. Artinya masih ada waktu 30 menit sebelum bel masuk berbunyi.
Segera kuberanjak ke gudang belakang sekolah yang merupakan tempat paling sepi di sekolah ini.
Kenapa gudang ini dan lingkungan disekitar gudang sangat sepi? Konon tempat ini sangat angker. Banyak alumni dan kakak kelas yang kesurupan ketika ingin mengambil sesuatu dari gudang ini sebelum akhirnya gudang ini ditutup.
Katanya dulu tempat ini adalah tempat pembantaian ketika zaman penjajahan.
Haha mereka ini lucu sekali ya, hantu itu sebenarnya tidak ada, itu semua hanya halusinasi belaka atau imajinasi payah mereka.
Aku heran di sekolah sebagus ini, kenapa masih banyak yang percaya dengan cerita hantu?.
Kesurupan dan hal ganjil lainnya pasti ada penjelasannya secara ilmiah.
Kusandarkan punggungku di kursi depan gudang tua. Hawa sejuk, dan angin semilir sangat menenangkan, suasana di sekitar sini seakan diam membisu, melukiskan kesedihan dan ketenangan. Aku suka suasana ini.
"Kraakk"
Ehh tanpa sengaja kakiku menginjak tanaman , tapi kan itu tidak sengaja.
Lagipula siapa suruh menanam pohon di dekat kursi seperti ini.
Tiba2-tiba terdengar suara tetes air dari dalam gudang, tapi aku tak peduli paling hanya suara atap bocor, maklum semalam hujan cukup deras.
Tak berkutik mataku membaca kata per kata dari novel kesayanganku.
Aku memiliki banyak sekali koleksi novel, hampir setiap minggu aku membeli novel baru. Bahkan ibuku sampai marah sekali karena hampir seluruh waktuku dihabiskan untuk membaca novel.
"Hmm cukup bagus, sayang ceritanya tidak masuk akal.. sekarang saatnya membaca yang ini" Aku mengembil novel baru.
Ketika tengah asik membaca, telingaku menangkap suara aneh, seperti suara tangisan. Perasaanku menjadi tidak enak.
"Siapa itu? Jangan kau pikir aku takut ya.. itu tidak lucu!" teriakku.
Akhirnya suara itu berhenti.
Suara hening tak berlangsung lama, sesuatu seperti suara sayatan pisau terdengar dari dalam disusul teriakan pilu seorang wanita.
"Siapa yang teriak? Tidak ada kah kerjaan lain selain mengerjaiku" teriakku lagi.
Karena kesal akhirnya kuputuskan untuk kembali ke kelas.
Hari ini adalah jam pelajaran matematika. Pak Waryo guru yang mengajar kami sangat membosankan. Akhirnya kuputuskan untuk tidur saja.
Tempat dudukku pling belakang jadi tidak mungkin ketahuan. Kutepuk pundak teman sebelahku.
"Eli aku mau tidur dulu nanti kalau Pak Waryo kesini bangunkan aku, oke?"
Ia hanya mengangguk pelan dengan tatapan tetap fokus kedepan, baguslah.
Dimana ini? Kuperhatikan di sekitarku.
Tampaknya ini adalah sebuah gudang. Aku tidak tahu kenapa tetapi perasaanku sangat tidak enak. Instingku mengatakan aku harus keluar dari tempat ini secepat mungkin.
Sial pintunya terkunci, jendela juga terkunci.
"Tolong... tolong.." teriakku panik.
Percuma seperti nya tidak ada yang mendengarnya. Dengan sekuat tenaga kuhantamkan kursi ke pintu. Tapi pintu kayu ini serasa pintu besi, sangat sulit dibuka.
Kucoba mencongkel pintu dengan alat yang ada. Aku lelah sekali.
Tanpa diduga terdengar suara nyaring wanita tertawa. Darah merembes dari sisi dinding gudang. Membuaku bergidik ngeri.
Dalam waktu singkat tiba2 benda2 yang ada di gudang ini menghilang dan ruangan berganti menjadi ruangan menyeramkan penuh darah. Tampak beberapa orang bersimbah darah.
Ada beberapa orang yang dalam kedaan dimutilasi, kepala pecah dan hal mengerikan lainnya. Tanpa kuduga, mereka menatap tajam kearahku.
Beberapa dari mereka mendekatiku dan berusaha mencekik leherku. Aku tidak ingin mati seperti ini. Siapapun tolong aku.
Tiba-tiba benda hitam melayang menghantam kepalaku. Terdengar samar suara tertawa teman sekelas. Aku tak berhenti mengucek mata sampai kudengar suara Pak Wiryo.
"Sudah selesai tidurnya bil? Ayo sana cuci muka." Kulihat Pak Wiryo sedang memegang buku tebal yang dilipat di tangnnya, rupanya benda itulah yang menghantam kepalaku.
"Iya pak" jawabku singkat.
Air segar cukup membuatku semangat lagi. Di kaca terpantul gambar gadis cantik berkerudung putih, tapi sayang kerudungnya sedikit berantakan.
Dengan gesit tanganku membetulkan kerudung itu. Sekali lagi aku ingin membasuh wajah.
Segarnya... ucapku sambil membasuh wajahku.
Hah apa itu? kutengok ke belakang namun tidak ada siapapun.
Tadi sekilas seperti orang berambut gondrong dan menyeramkan di pantulan kaca, tapi setelah itu menghilang.
Kamar mandi yang kosong tiba-tiba pintunya terbanting dengan keras. Aku melihatnya sendiri.. kamar mandi itu kosong dan sama sekali tidak ada angin? Bagaimana itu terjadi? Sebaiknya aku harus segera ke kelas.
Beberapa hari ini aku selalu dihantui mimpi buruk, bahkan aku sampai tidak sanggup tidur. Setiap hari selalu ada hal ganjil yang terjadi, aku benar2 diteror. Apakah ini adalah karma karena aku tidak percaya adanya hantu?
Aku ingat salah seorang temanku yang cukup paham dengan hal-hal gaib. Aku pun bertanya padanya.
"Mereka marah padamu karena kau merusak lingkungan di sekitar gudang itu" katanya santai. Merusak? aku nyaris tidak pernah merusak apapun disana. Hmm tunggu.. tiba-tiba aku ingat pernah menginjak tanaman yg ada di dekat kursi.
"Tapi bagaimana cara mengatasinya? Bagaimana cara meminta maaf pada mereka?"
"Mereka bilang mereka tak akan pernah mau memaafkanmu, percuma saja" jawabannya.
"Jadi aku akan selamanya diteror?"
"Ya" jawabnya singkat. Aku hanya bisa diam mematung mendengar jawabannya. Ahh andai aku bisa memutar waktu.
Tamat.
Hari ini adalah hari pertama sekolah setelah libur semester. Semuanya akan kembali seperti biasa, ya tentu saja rutinitas membosankan itu.
Berangkat kemudian belajar dan pulang, sangat membosankan bukan?
Kumasuki pintu kelas dengan sedikit jengkel mendengar celotehan teman-temanku yang sangat berisik.
Aku tidak suka kelas ini, aku suka suasana sepi.
Setelah menaruh tas kutengok masih jam 06.30. Artinya masih ada waktu 30 menit sebelum bel masuk berbunyi.
Segera kuberanjak ke gudang belakang sekolah yang merupakan tempat paling sepi di sekolah ini.
Kenapa gudang ini dan lingkungan disekitar gudang sangat sepi? Konon tempat ini sangat angker. Banyak alumni dan kakak kelas yang kesurupan ketika ingin mengambil sesuatu dari gudang ini sebelum akhirnya gudang ini ditutup.
Katanya dulu tempat ini adalah tempat pembantaian ketika zaman penjajahan.
Haha mereka ini lucu sekali ya, hantu itu sebenarnya tidak ada, itu semua hanya halusinasi belaka atau imajinasi payah mereka.
Aku heran di sekolah sebagus ini, kenapa masih banyak yang percaya dengan cerita hantu?.
Kesurupan dan hal ganjil lainnya pasti ada penjelasannya secara ilmiah.
Kusandarkan punggungku di kursi depan gudang tua. Hawa sejuk, dan angin semilir sangat menenangkan, suasana di sekitar sini seakan diam membisu, melukiskan kesedihan dan ketenangan. Aku suka suasana ini.
"Kraakk"
Ehh tanpa sengaja kakiku menginjak tanaman , tapi kan itu tidak sengaja.
Lagipula siapa suruh menanam pohon di dekat kursi seperti ini.
Tiba2-tiba terdengar suara tetes air dari dalam gudang, tapi aku tak peduli paling hanya suara atap bocor, maklum semalam hujan cukup deras.
Tak berkutik mataku membaca kata per kata dari novel kesayanganku.
Aku memiliki banyak sekali koleksi novel, hampir setiap minggu aku membeli novel baru. Bahkan ibuku sampai marah sekali karena hampir seluruh waktuku dihabiskan untuk membaca novel.
"Hmm cukup bagus, sayang ceritanya tidak masuk akal.. sekarang saatnya membaca yang ini" Aku mengembil novel baru.
Ketika tengah asik membaca, telingaku menangkap suara aneh, seperti suara tangisan. Perasaanku menjadi tidak enak.
"Siapa itu? Jangan kau pikir aku takut ya.. itu tidak lucu!" teriakku.
Akhirnya suara itu berhenti.
Suara hening tak berlangsung lama, sesuatu seperti suara sayatan pisau terdengar dari dalam disusul teriakan pilu seorang wanita.
"Siapa yang teriak? Tidak ada kah kerjaan lain selain mengerjaiku" teriakku lagi.
Karena kesal akhirnya kuputuskan untuk kembali ke kelas.
Hari ini adalah jam pelajaran matematika. Pak Waryo guru yang mengajar kami sangat membosankan. Akhirnya kuputuskan untuk tidur saja.
Tempat dudukku pling belakang jadi tidak mungkin ketahuan. Kutepuk pundak teman sebelahku.
"Eli aku mau tidur dulu nanti kalau Pak Waryo kesini bangunkan aku, oke?"
Ia hanya mengangguk pelan dengan tatapan tetap fokus kedepan, baguslah.
Dimana ini? Kuperhatikan di sekitarku.
Tampaknya ini adalah sebuah gudang. Aku tidak tahu kenapa tetapi perasaanku sangat tidak enak. Instingku mengatakan aku harus keluar dari tempat ini secepat mungkin.
Sial pintunya terkunci, jendela juga terkunci.
"Tolong... tolong.." teriakku panik.
Percuma seperti nya tidak ada yang mendengarnya. Dengan sekuat tenaga kuhantamkan kursi ke pintu. Tapi pintu kayu ini serasa pintu besi, sangat sulit dibuka.
Kucoba mencongkel pintu dengan alat yang ada. Aku lelah sekali.
Tanpa diduga terdengar suara nyaring wanita tertawa. Darah merembes dari sisi dinding gudang. Membuaku bergidik ngeri.
Dalam waktu singkat tiba2 benda2 yang ada di gudang ini menghilang dan ruangan berganti menjadi ruangan menyeramkan penuh darah. Tampak beberapa orang bersimbah darah.
Ada beberapa orang yang dalam kedaan dimutilasi, kepala pecah dan hal mengerikan lainnya. Tanpa kuduga, mereka menatap tajam kearahku.
Beberapa dari mereka mendekatiku dan berusaha mencekik leherku. Aku tidak ingin mati seperti ini. Siapapun tolong aku.
Tiba-tiba benda hitam melayang menghantam kepalaku. Terdengar samar suara tertawa teman sekelas. Aku tak berhenti mengucek mata sampai kudengar suara Pak Wiryo.
"Sudah selesai tidurnya bil? Ayo sana cuci muka." Kulihat Pak Wiryo sedang memegang buku tebal yang dilipat di tangnnya, rupanya benda itulah yang menghantam kepalaku.
"Iya pak" jawabku singkat.
Air segar cukup membuatku semangat lagi. Di kaca terpantul gambar gadis cantik berkerudung putih, tapi sayang kerudungnya sedikit berantakan.
Dengan gesit tanganku membetulkan kerudung itu. Sekali lagi aku ingin membasuh wajah.
Segarnya... ucapku sambil membasuh wajahku.
Hah apa itu? kutengok ke belakang namun tidak ada siapapun.
Tadi sekilas seperti orang berambut gondrong dan menyeramkan di pantulan kaca, tapi setelah itu menghilang.
Kamar mandi yang kosong tiba-tiba pintunya terbanting dengan keras. Aku melihatnya sendiri.. kamar mandi itu kosong dan sama sekali tidak ada angin? Bagaimana itu terjadi? Sebaiknya aku harus segera ke kelas.
Beberapa hari ini aku selalu dihantui mimpi buruk, bahkan aku sampai tidak sanggup tidur. Setiap hari selalu ada hal ganjil yang terjadi, aku benar2 diteror. Apakah ini adalah karma karena aku tidak percaya adanya hantu?
Aku ingat salah seorang temanku yang cukup paham dengan hal-hal gaib. Aku pun bertanya padanya.
"Mereka marah padamu karena kau merusak lingkungan di sekitar gudang itu" katanya santai. Merusak? aku nyaris tidak pernah merusak apapun disana. Hmm tunggu.. tiba-tiba aku ingat pernah menginjak tanaman yg ada di dekat kursi.
"Tapi bagaimana cara mengatasinya? Bagaimana cara meminta maaf pada mereka?"
"Mereka bilang mereka tak akan pernah mau memaafkanmu, percuma saja" jawabannya.
"Jadi aku akan selamanya diteror?"
"Ya" jawabnya singkat. Aku hanya bisa diam mematung mendengar jawabannya. Ahh andai aku bisa memutar waktu.
Tamat.
Komentar
Posting Komentar