Bisikan
Cerita 1
"Diin... Diinn.. Dina!!" aku tersentak kaget mendengar suara bentakan di telinga kananku, seperti ada yang memanggilku dari sisi kanan. Sejak semalam memang telingaku terasa agak sakit. Kemarin ada adik kelas yang sengaja meniupkan peluit dekat sekali dengan telinga kananku, jadilah telingaku terasa nyut nyutan seperti ini.
Kutanyakan pada teman teman di sekitarku apakah mereka mendengar suara itu, suara laki laki, suaranya agak serak. Namun nihil, mereka semua tidak mendengarnya.
Kami yang sedang berkumpul di tempat ini semuanya perempuan, sama sekali tidak ada laki-laki, jadi darimana datangnya suara itu? Biarkan sajalah paling hanya perasaanku, pikirku.
"Din ini bagaimana ya?? bagian ini kamu saja ya yang mengerjakan"
ujar temanku sambil menyodorkan buku matematikanya.
"Ohh ini sih mudah"
Kucoba untuk mengerjakan soal itu. Ketika sedang berkonsentrasi menghitung
"Diinn.. Diinn. Dina!!!". Sial suara itu muncul lagi, memecahkan konsentrasiku, sontak aku menengok ke kanan.
"Kamu kenapa din?? kok kaget gitu?"
"ah gapapa kok"
Sebagai seorang teman yang baik, aku selalu menanggapi jika ada teman yang memanggil atau menyapaku. Jadi mendengar suara ini rasanya aku selalu ingin menengok ke arah suara itu berasal.
Suara panggilan itu berkali kali muncul selama kerja kelompok, membuatku tidak berkonsentrasi.
"Ini dihabiskan dulu makanannya, dihabiskan juga teh nya sebelum pergi" kata temanku sang pemilik rumah sebelum kami beranjak keluar.
Akhirnya selesai juga kerja kelompok hari ini, otakku rasanya letih sekali karena telah dipakai untuk berpikir keras mengerjakan tugas.
"Hati hati di jalan din.."
"Yoo.. aku pergi dulu yaa" kataku sambil menghidupkan motor.
Kusetir motorku keluar dari gerbang menuju jalan raya yang pengang, ternyata daerah ini agak sepi. Aku menyetir motor dengan kebut. Membayangkan diri sedang berlomba di ajang balapan motor.
Jalanan sepi seperti ini rasanya bebas. Selama perjalanan tak kutemui satu pun kendaraan yang lewat, kecuali motorku.
Tampak dari kejauhan melaju sebuah truk besar. Sedari tadi berkendara, akhirnya kutemukan juga kendaraan yang lewat di tempat sepi seperti ini.
Truk itu berbadan cukup lebar, jadi aku harus bersiap siap menyetir ke pinggir jalan supaya tidak tertabrak.
Kukendalikan motorku sebaik mungkin ke tepi jalan. Tiba tiba "Dinaa!!" suara itu muncul lagi, sontak aku menengok ke kanan dan konsentrasiku buyar.
Aku kehilangan fokus ketika menyetir dengan kecepatan tinggi. Bruuaakk... aku terbanting jatuh kebawah. Badanku sakit sekali, namun seakan tak mau tahu truk besar itu semakin mendekatiku.
"Kraakk..." aku menjerit keras, kini aku merasakan sakit yang teramat sangat di kakiku, tulang kakiku mungkin hancur terlindas ban truk besar itu. Seakan tak punya rasa bersalah, truk itu justru semakin cepat lajunya mendengar teriakanku. "Tolong!!! tolong!!" sekeras mungkin aku berteriak. Pita suaraku mungkin nyaris putus, aku berteriak sampai suaraku serak.
Tidak ada satu orang pun yang mendengar teriakanku. Aku tidak kuat lagi. Terbaring kesakitan, mataku mencoba menatap langit.
Mungkin ini terakhir kalinya aku menatap langit yang indah ini, berwarna biru ultramarin. Bibirku menyunggingkan senyum melihat keindahan ini. Untung hari ini langitnya cerah.
Ah, sedari kecil aku memang suka langit... beberapa detik kemudian pendanganku berganti menjadi gelap, sangat gelap..
Tamat.
"Diin... Diinn.. Dina!!" aku tersentak kaget mendengar suara bentakan di telinga kananku, seperti ada yang memanggilku dari sisi kanan. Sejak semalam memang telingaku terasa agak sakit. Kemarin ada adik kelas yang sengaja meniupkan peluit dekat sekali dengan telinga kananku, jadilah telingaku terasa nyut nyutan seperti ini.
Kutanyakan pada teman teman di sekitarku apakah mereka mendengar suara itu, suara laki laki, suaranya agak serak. Namun nihil, mereka semua tidak mendengarnya.
Kami yang sedang berkumpul di tempat ini semuanya perempuan, sama sekali tidak ada laki-laki, jadi darimana datangnya suara itu? Biarkan sajalah paling hanya perasaanku, pikirku.
"Din ini bagaimana ya?? bagian ini kamu saja ya yang mengerjakan"
ujar temanku sambil menyodorkan buku matematikanya.
"Ohh ini sih mudah"
Kucoba untuk mengerjakan soal itu. Ketika sedang berkonsentrasi menghitung
"Diinn.. Diinn. Dina!!!". Sial suara itu muncul lagi, memecahkan konsentrasiku, sontak aku menengok ke kanan.
"Kamu kenapa din?? kok kaget gitu?"
"ah gapapa kok"
Sebagai seorang teman yang baik, aku selalu menanggapi jika ada teman yang memanggil atau menyapaku. Jadi mendengar suara ini rasanya aku selalu ingin menengok ke arah suara itu berasal.
Suara panggilan itu berkali kali muncul selama kerja kelompok, membuatku tidak berkonsentrasi.
"Ini dihabiskan dulu makanannya, dihabiskan juga teh nya sebelum pergi" kata temanku sang pemilik rumah sebelum kami beranjak keluar.
Akhirnya selesai juga kerja kelompok hari ini, otakku rasanya letih sekali karena telah dipakai untuk berpikir keras mengerjakan tugas.
"Hati hati di jalan din.."
"Yoo.. aku pergi dulu yaa" kataku sambil menghidupkan motor.
Kusetir motorku keluar dari gerbang menuju jalan raya yang pengang, ternyata daerah ini agak sepi. Aku menyetir motor dengan kebut. Membayangkan diri sedang berlomba di ajang balapan motor.
Jalanan sepi seperti ini rasanya bebas. Selama perjalanan tak kutemui satu pun kendaraan yang lewat, kecuali motorku.
Tampak dari kejauhan melaju sebuah truk besar. Sedari tadi berkendara, akhirnya kutemukan juga kendaraan yang lewat di tempat sepi seperti ini.
Truk itu berbadan cukup lebar, jadi aku harus bersiap siap menyetir ke pinggir jalan supaya tidak tertabrak.
Kukendalikan motorku sebaik mungkin ke tepi jalan. Tiba tiba "Dinaa!!" suara itu muncul lagi, sontak aku menengok ke kanan dan konsentrasiku buyar.
Aku kehilangan fokus ketika menyetir dengan kecepatan tinggi. Bruuaakk... aku terbanting jatuh kebawah. Badanku sakit sekali, namun seakan tak mau tahu truk besar itu semakin mendekatiku.
"Kraakk..." aku menjerit keras, kini aku merasakan sakit yang teramat sangat di kakiku, tulang kakiku mungkin hancur terlindas ban truk besar itu. Seakan tak punya rasa bersalah, truk itu justru semakin cepat lajunya mendengar teriakanku. "Tolong!!! tolong!!" sekeras mungkin aku berteriak. Pita suaraku mungkin nyaris putus, aku berteriak sampai suaraku serak.
Tidak ada satu orang pun yang mendengar teriakanku. Aku tidak kuat lagi. Terbaring kesakitan, mataku mencoba menatap langit.
Mungkin ini terakhir kalinya aku menatap langit yang indah ini, berwarna biru ultramarin. Bibirku menyunggingkan senyum melihat keindahan ini. Untung hari ini langitnya cerah.
Ah, sedari kecil aku memang suka langit... beberapa detik kemudian pendanganku berganti menjadi gelap, sangat gelap..
Tamat.
Wooow mantul
BalasHapus